‘PAK DOKTER,” AKU GAMBAR YA?”


Itulah kata-kata yang terdengar dari anakku Ardhani (Dhani) anak keduaku yang masih berumur 6 tahun. Saat itu aku mengajak kakaknya, anak pertamaku  Fikri yang berumur 8 untuk khitan pada libur sekolah semester.Fikri setuju dan siap dikhitan karena katanya,beberapa teman disekolahnya sudah pada khitan.

Dari pada dua kali punya hajat dansekalian hemat waktu akhirnya aku tawari anak keduakku untuk khitan juga.Pelan-pelan aku dan istriku coba untuk merayunya, dan, pada akhirnya dia mau untuk khitan bersama kakaknya (sekali lagi tidak ada paksaan sama sekali).

Tanpa pikir panjang karena, keduanya mau dan siap aku bawa merekaa ke dokter untuk observasi dulu, tapi akhirnya istriku tanya ke dokter biar sekalian hemat biaya, “Bagaimana kalau langsung khitan saja dok?. Dokter menyanggupi  dan anakku pun dengan bercanda-canda siap untuk dikhitan.

Sebelum dikhitan, dokter menjelaskan manfaat khitan dan proses khitan itu sendiri. Yang menarik adalah ketika dokter menggambar pada kami proses khitan. Ketika dokter menggambar dan menjelaskan dengan jenaka proses khitan, anak ku  yang kedua Dhani mengambil gambar itu dan bilang ke kakaknya Fikri: ” Mas diwarnai yuk!”

Aku dan istriku tertawa geli dan dokterpun langsung menarik gambar itu dan bilang ” hei jangan ga boleh!”.

Alhamdulillah proses khitan berjalan normal anak-anak masuk satu persatu tanpa ditemanin siapapun. Sesuai dengan saran dokter kepada anak kami “kalau mau dikhitan harus berani, masuk ke ruangan tanpa Ummi dan Abinya. Selesai khitan merekah berjalan keluar dengan sedikit “ngankang” tapi yang bikin aku dan istriku bangga keduanya ga ada yang nangis.

Semoga mereka cepat sembuh, tumbuh kembang menjadi anak yang sholeh, bertambah iman dan ibadahnya.

Ada beberapa pelajaran dari apa yang aku ceritakan semoga bermanfaat bagi pembaca.

  1. Jauh-jauh hari berikan informasi yang baik dan lengkap kepada anak jika kita punya rencana terhadap anak kita. Sehingga anak tahu maksud kita dan tidak ada rasa keterpaksaan untuk melakukannya.
  2. Cari referensi, dalam hal ini dokter yang sudah banyak dipercaya oleh masyarakat. Saya juga dapat referensi dokter ini dari teman. Dokter ini specialis bedad, senior, sabar dan jenaka menghadapi anak-anak.
  3. Ketika anak sudah siap khitan ga usah ditunda-tunda, yang jelas kita sudah siapkan dana jauh-jauh hari untuk pelaksanaannya. Begitu anak siap kita tinggal laksanakan. Untuk urusan-urusan yang lain; syukuran atau ceremonial yang lain saya kira bisa diatur. (kalau ada dana)

Sekian terimakasih, semoga bermanfaat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: